kisah tentang dia yang pernah singgah

Juni 29, 2009

Dalam terang sedang mengukir malam, aku berfikir arti dan makna tentangnya. Tentang dia yang selalu memuja cinta.
Tak pernah kurasakan simfoni untukku dalam setiap gerakan bola matanya. Tak juga pernah ku rasa belaian untukku di setiap polah tangannya. Hanya selalu perhatian dan tatap matanya mengikutiku di setiap pertemuan kami. Atau aku memang perempuan es yang tak lagi bisa merasa?
Sampai detik ini, entah apa yang selalu dia ucapkan, tak pernah lagi sampai di otakku. Bukan karna raga ini tak bisa mencernanya, tapi karna memang sudah ku tata sedemikian rupa agar tak lagi mencernanya.
Kedangkalan hatiku yang masih beranjak tumbuh begitu sakit dilukai kata-katanya kala itu yang kutahu sengaja dia lontarkan tapi bukan untukku. Tujuannya bukan lagi menyakitiku. Tapi hanya dengan satu kalimat, cinta dalam hatiku yang mungkin sedang bersemi seakan membeku seketika. Tak ada lagi sepatah kata yang bisa kulontarkan setelahnya. Hanya senyuman selamat tinggal untuk mengakhiri harapan yang mulai mendesak untuk diperhatikan.
Saat itu aku masih mengeja kata cinta dalam fase hidupku ini. Tak bisa kumengerti maknanya pun saat ini. Apa arti keberadaan dia kala itu?

Berkali-kali kuyakinkan diriku bahwa dia hanya seorang yang pandai bermain dan bersandiwara dengan kepercayaan dirinya. Tapi keyakinan ini selalu gagal ketika bulan mulai menyapa. Tak pernah kutemukan sesuatu yang bisa menghancurkan logikaku. Logika dari seorang perempuan yang susah disangkal.
Perhatiannya tulus. Walau begitu selalu kutahu pandangannya padaku begitu menusuk seakan mengatakan,”Kau milikku.” Setiap kali dia melakukannya, aku merasa jengah, mual, dan syaraf otakku mulai mengeras untuk berpikir. Akhirnya yang bisa kulakukan hanya membuang pandanganku jauh-jauh dari matanya. Bahkan pada akhirnya, kawanku selalu bilang aku pengecut ketika menyakitinya tanpa bertemu dengannya. Aku tak sanggup melihatnya tersenyum dan bertahan untukku. Kini pun, masih tetap ku merasa menyakitinya walau kami tak lagi bertemu. Karna sebagian besar duniaku, masih ada sebongkah namanya di sana.
Aku tak yakin apa bongkahan itu telah retak, tapi yang kutahu bongkahan itu masih belum menjadi pasir tak berbentuk yang siap ditiup angin. Akan hilang, lepas sepenuhnya dari hidupku. Seharuskah ku gembira ketika sang waktu berbisik padaku bahwa semua sudah selesai? Dan mungkin hanya malaikat yang akan menjadi penghiburku nanti.
Malam ini terasa berat menghirup napas dan tertawa. Aku sudah bosan berpura-pura tertawa. Aku ingin tulus tersenyum untuk diriku dan untuk dunia. Kembali inginku mengukir setiap deritan pintu ketika kubuka saat menyapa sang mentari esok. Tapi tak pernah kutahu, siapa yang kan tersenyum padaku pertama kali saat kubuka nanti, apakah sang pemuja yang sama? Ataukah…
Tuhan, hidup, dan dunia..Ke manakah nasibku bergulir? Aku bukanlah sebuah gundu yang sedang diadu, hanya diam dan hanya memiliki satu arah. Hanya berbelok ketika alasnya tak rata. Hey! Aku manusia yang juga memiliki rasa dan karsa. Memiliki rupa yang tak hanya utnuk membagi keindahan. Aku juga bisa menitikkan air mata. Sama seperti saat ini, ketika mengenangnya, selalu saja rasa sakit yang mendera dan air mata yang tumpah dalam pangkuan.
Emosi jiwaku selalu bertanya kapan ini berhenti, karna kami sama-sama tak memiliki penghapus juga tak memiliki tipe-ex untuk menghapus segalanya.
Persimpangan jalan yang melelahkan kembali membayang. Haruskah ku membuka portal untuk berjalan ke arahnya di ujung jalan tapi tak kan pernah kan kurasakan kebahagiaan untukku, ataukah ku harus berbalik arah, menemukan sesuatu yang tak pasti, apakah bahagia atau semakin terpurukku.
Yaah, bukankah kini aku telah memiliki prinsip dan konsep yang sudah separuh jalan dikerjakan. Kenapa tak kau teruskan hingga menemukan titik akhirnya? Dan bukankah aku selalu tak suka menyerahkan semuanya pada sang waktu? Karna ini hidupmu bersama waktu, bukan hidupmu yang diatur oleh waktu…

I never needed you to be strong
I never needed you for pointing out my wrongs
I never needed pain, I never needed strain
My love for you was strong enough you should’ve known
I never needed you for judgement
I never needed you to question what i spent
I never asked for help, I take care of myself, I don’t know why you think you got a hold on me
And it’s a little in the conversations, there isn’t anything that you can say
And my eyes hurt, hands shiver, so look at me and listen to me

I never needed your corrections
On everything from how i act to what I say
I never needed words, I never needed hurt, I never needed you to be there everyday
I’m sorry for the way I let go
Of everything I wanted when you came along
But I am never beaten, broken, not defeated
I know next to you is not where i belong
And it’s a little late for explanations
There isn’t anything that you can do
And my eyes hurt, hands shiver, so you will listen when I say

I don’t want to stay another minute
I don’t want you to say a single word
There is no other way
I get the final say
Because. . .
I don’t want to do this any longer
I don’t want you, there’s nothing left to say
I’ve already spoken, our love is broken
Hush Hush, Hush Hush

290609 : 11.09 – ruang yang tak seharusnya pengap

Entry Filed under: the dreaming of my silent. Tag: , , .

Leave a Comment

Required

Required, hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


posting baru ajah...

Top Posts

Top Clicks

bingung temanya apa?? KLIK :

urang-urang telah memberikuwh

bhogey di what is the blog use for?
SAKERA MADIOEN di IDR and merchant mig33
maztrie di what is the blog use for?

Monthly news

menyapaku .... ^^

Meta

hmmmm